Sabtu, 19 Januari 2008
Jumat, 18 Januari 2008
How (Rich, Generous and) Low Can You Go?
Pernahkah Anda mengenal seseorang yang sangat kaya, sangat dermawan, dan sangat sederhana sekaligus?Saya mengenal seorang konglomerat yang sangat dermawan dan mungkin merupakan philantrophist terbesar di Indonesia (tapi tentu saja ia tidak mengenal saya). Ia baru saja menyerahkan dana pribadinya sebesarUS $150 juta untuk dimasukkan dalam yayasan pendidikan yang didirikannya untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Jika dimasukkan ke deposito dana tersebut akan menghasilkan bunga minimal 10 M setiap bulannya. Ia sangat kaya dan sangat dermawan. Tapi sederhana? Ia tidak masuk dalam kategori ini. Ia hidup sebagaimana layaknya seorang konglomerat. Rolls Royce warna maroonnya sangat mencerminkan gaya hidupnya. Jika Anda mencari orang dengan tiga kategori tersebut: kaya, dermawan, dan hidup sangat sederhana- maka ada dua orang yang bisa Anda contoh : Warren Buffet dan Chuck Feeney.
Bagi Anda yang tidak pernah mendengar nama Warren Buffet, ia adalah orang terkaya kedua di dunia setelah Bill Gates berdasarkan Forbes pada September 2007. (http://www.forbes.com/lists/2007/10/07billionaires_Warren-Buffett_C0R3.html).Kekayaannya sekitar US$ 52 Milyar atau kalau dirupiahkan dengan kurs Rp.9. 000 adalah ¡K (hitung sendiri saja ya! Terlalu banyak angka nol yang terlibat disini). Seberapa dermawankah Warren Buffet ini? Dariharta kekayaannya yang luar biasa besamya itu ia mendermakan sekitar 83% nya (atau sekitar $ 30 M) ke Yayasan Bill and Melinda Gates pada Juni 2006 lalu. Donasi ini dianggap sebagai sumbangan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat! Lantas seberapa sederhana orang terkaya nomor 2 di dunia ini (silakan bandingkan dengan kehidupan Anda)? Meski bisa membeli beberapa istana sekaligus, ia tetap tinggal di rumah tuanya yang hanya memiliki tiga kamar tidur yang ia beli pada tahun 1958 di Omaha Nebraska dengan harga $31.500 (rumah saya memiliki kamar tidur lebih banyak). Rumah tersebut bahkan tidak punya pagar!Ia juga tidak berniat untuk mewariskan kekayaannya kepada anak-anaknya dan mengatakan :” Saya ingin memberi anak-anak saya uang secukupnya saja agar mereka merasa bisa melakukan apa saja, tapi tidak terlalu banyak sehingga membuat mereka merasa lebih baik tidak melakukan apa-apa.”
Buffet menyetir sendiri mobilnya karena ia tidak punya sopir pribadi apalagi pengawal keamanan pribadi di sekitarnya. Ia tentu saja tidak bepergian dengan menggunakan pesawat jet pribadi meski ia memilikiperusahaan jet pribadi terbesar di dunia. Bahkan orang-orang kaya di dunia menyewa pesawat jet pribadi darinya. Sebagai orang yang selalu berusaha untuk hidup sederhana ia tentu juga tidak bergaul dengan para kaum jetset. Lantas bagaimana ia memanfaatkan waktu luangnya? Tinggal di rumah, bikin pop-corn dan nonton TV! Apa merek HP-nya? Apa pun tebakan Anda pasti salah karena ia tidak punya handphone dan bahkan tidak punya komputer di meja kantornya.
Lantas bagaimana ia mengendalikan Berkshire Hathaway perusahaannya yang membawahi 63 perusahaan lain tersebut? Ia hanya menulis sebuah surat setahun sekali ke CEO dari perusahaan-perusahaan tersebut. Isinya tentang tujuan yang harus dicapai oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Ia memberi dua perintah kepada CEO-nya. Peraturan 1 : Jangan sampai merugikan uang pemilik saham. Peraturan 2: Jangan lupa peraturan no. 1. Apa wasiatnya pada anak-anak muda? Jauhi kartu kredit dan berinvestasilah pada dirimu sendiri.
Lantas bagaimana dengan Chuck Feeney? (http://en.wikipedia.org/wiki/Chuck_Feeney) Seberapa kaya, dermawan dan sederhanakah ia? Pada tahun 1988, Forbes magazine memasukkan Feeney dalam daftar “top 20 of 400 richest people list”, dengan kekayaan yang diperkirakan sebesar US $1.3 milyar. Artinya ia lebih kaya daripada Rupert Murdoch dan Donald Trump! Tapi sebenarnya Feeney tidak seharusnya masuk dalam daftar tersebut karena sebenarnya ia telah menyumbangkan hampir seluruh hartanya secara diam-diam ke yayasan Atlantic Philanthropies pada tahun 1982 dan hanya menyisakan $ 5 juta bagi dirinya. Ini ia lakukan setelah ia menyumbangkan $ 700.000 ke Cornel University dan mendapat banyak permintaan sumbangan dari berbagai lembaga setelahnya. (Total sumbangannya selama 25 tahun ke Cornell University adalah $600 juta. Meski demikian tak satu pun bangunan yang diberi nama dengan namanya. Ia tidak pernah minta penghargaan atas sumbangannya tersebut. Ia bahkan melarangnya). Tanpa bantuan Feeney Cornell University bakal tidak akan seperti saat ini.
Agar “tangan kiri tidak melihat apa yang diberikan oleh tangan kanan”, Feeney mendaftarkan lembaga filantropinya di Bermuda dan bukan atas namanya! Kenapa harus di Bermuda? Agar besarnya sumbangannya tidak dimasukkan dalam daftar yang setiap tahun diumumkan jika berada di AS. Ia juga tidak pernah menggunakan sumbangannya untuk mendapatkan keringanan pajak seperti yang selayaknya ia terima sesuaiundang-undang. Ia benar-benar merahasiakan sumbangannya. Rahasianya baru terbongkar pada tahun 1997 ketika perusahaan yang membiayai kegiatan filantropinya akan dijual agar mendapat lebih banyak uangkontan. Bahkan Robert Millar, partner bisnisnya yang hidup dalam kemewahan, terkejut mengetahui bahwa sebenarnya Feeney selama ini telah mendermakan hampir seluruh hartanya ke yayasan Atlantic Philantrophies tersebut. Kekayaan lembaga amal tersebut adalah sekitar $ 3.6 milyar dan difokuskan untuk menyelesaikan masalah kesehatan, panti jompo, anak-anak dan remaja yang kurang beruntung, dan masalah-masalah HAM di AS, Irlandia, Irlandia Utara, Inggris, Afrika Selatan, Vietnam dan Bermuda.
Tahun lalu Atlantic Philantrophies menyumbangkan $ 458 juta ke seluruh dunia. Sejak 1982 Atlantic telah menyumbangkan $ 4 milyar atau dirupiahkan dengan kurs 9.000 rupiah perdollarnya adalah sekitar 40trilyun rupiah! Rencananya adalah menyumbangkan sisa asetnya yang telah mencapai $ 4 milyar, yang terus tumbuh setiap harinya, sebelum 2017. Baiklah! Kita telah tahu seberapa kaya dan seberapa dermawan Feeney ini. Tapi apakah ia juga hidup sederhana seperti Warren Buffet? Ya! Feeney menolak secara total jebakan gaya hidup orang-orang kaya.Tak satu pun orang yang pernah melihatnya menggunakan pakaian yang mewah. Kacamata bacanya hanya seharga $ 9 dan arlojinya adalah Casio plastik yang harganya cuma $15. (Bulan lalu saya membeli arloji dengan harga hampir tiga kali lipatnya untuk “memperbaiki” penampilan saya). “Kalau saya bisa mendapat arloji seharga $15 dengan baterei yang tahan 5 tahun, untuk apa saya harus bergaya dengan Rolex?” Katanya ketika ditanya kenapa tidak membeli jam tangan mewah. Feeney bahkan tidak punya rumah ataupun mobil! Ia menggunakan taksi kesana kemari atau berjalan kaki melalui subway dan berbelanja sendiridi supermarket. Kalau perlu menyewa mobil ia menyewa mobil dua pintu yang paling kecil. Di New York tidak akan ada satu orang pun yang tahu bahwa ia orang yang sangat kaya raya ketika berjalan kaki di subwaymembawa tas plastik. Ia menolak hampir semua undangan acara formal. Dan kalau bepergian ia naik pesawat kelas ekonomi (saya yakin ia tidak memiliki kartu ¡¥frequent flyers¡¦ yang dapat membuatnya masuk kelounge eksklusif seperti yang saya miliki).
Feeney mungkin terinspirasi oleh filantropist besar abad 19, Andrew Carnegie (http://en.wikipedia.org/wiki/Andrew_Carnegie). “Saya memiliki tekad yang tidak pernah berubah bahwa kita harus menggunakan kekayaan kita untuk membantu orang lain. Saya berusaha untuk hidup normal, seperti kehidupan dimana saya dibesarkan dulu.” Kata Feeney, “Saya tetapkan diri saya untuk bekerja keras, bukan untuk kaya.” Feeney berharap agar contoh yang ia berikan, yaitu memberikan kekayaan ketika masih hidup agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar dapat mendorong filantropist lainnya untuk juga turut menyumbangselagi masih hidup. Ia ingin agar prinsipnya “Memberi Ketika Masih Hidup” dapat menjadi teladan bagi orang-orang kaya lain. “Kekayaan membawa konsekuensi tanggungjawab. Orang kaya harus sadar bahwa mereka punya tanggung jawab untuk menyerahkan sebagian dari hartanya untuk meningkatkan kualitas kehidupan sesama manusia lainnya, dan bukannya menciptakan masalah bagi generasi berikutnya.” Ujarnya. Uang lebih bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan ketika dalam kesulitan ketimbang dalam keadaan normal. Setiap orang tahu kapan ia dilahirkan tapi tidak tahu kapan ia akan mati. Jika Anda ingin memberi,pikirkanlah untuk memberi ketika Anda masih hidup karena itu akan memberikan lebih banyak kesenangan ketimbang Anda tunggu saat Anda sudah meninggal.” Tuturnya. Mati dalam keadaan kaya adalah matimemalukan, menurutnya.Nah! How (Rich, Generous and) Low Can You Go?
Balikpapan, 20 Oktober 2007
Satria Dharma
Sumber : http://satriadharma.wordpress.com/
Bagi Anda yang tidak pernah mendengar nama Warren Buffet, ia adalah orang terkaya kedua di dunia setelah Bill Gates berdasarkan Forbes pada September 2007. (http://www.forbes.com/lists/2007/10/07billionaires_Warren-Buffett_C0R3.html).Kekayaannya sekitar US$ 52 Milyar atau kalau dirupiahkan dengan kurs Rp.9. 000 adalah ¡K (hitung sendiri saja ya! Terlalu banyak angka nol yang terlibat disini). Seberapa dermawankah Warren Buffet ini? Dariharta kekayaannya yang luar biasa besamya itu ia mendermakan sekitar 83% nya (atau sekitar $ 30 M) ke Yayasan Bill and Melinda Gates pada Juni 2006 lalu. Donasi ini dianggap sebagai sumbangan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat! Lantas seberapa sederhana orang terkaya nomor 2 di dunia ini (silakan bandingkan dengan kehidupan Anda)? Meski bisa membeli beberapa istana sekaligus, ia tetap tinggal di rumah tuanya yang hanya memiliki tiga kamar tidur yang ia beli pada tahun 1958 di Omaha Nebraska dengan harga $31.500 (rumah saya memiliki kamar tidur lebih banyak). Rumah tersebut bahkan tidak punya pagar!Ia juga tidak berniat untuk mewariskan kekayaannya kepada anak-anaknya dan mengatakan :” Saya ingin memberi anak-anak saya uang secukupnya saja agar mereka merasa bisa melakukan apa saja, tapi tidak terlalu banyak sehingga membuat mereka merasa lebih baik tidak melakukan apa-apa.”
Buffet menyetir sendiri mobilnya karena ia tidak punya sopir pribadi apalagi pengawal keamanan pribadi di sekitarnya. Ia tentu saja tidak bepergian dengan menggunakan pesawat jet pribadi meski ia memilikiperusahaan jet pribadi terbesar di dunia. Bahkan orang-orang kaya di dunia menyewa pesawat jet pribadi darinya. Sebagai orang yang selalu berusaha untuk hidup sederhana ia tentu juga tidak bergaul dengan para kaum jetset. Lantas bagaimana ia memanfaatkan waktu luangnya? Tinggal di rumah, bikin pop-corn dan nonton TV! Apa merek HP-nya? Apa pun tebakan Anda pasti salah karena ia tidak punya handphone dan bahkan tidak punya komputer di meja kantornya.
Lantas bagaimana ia mengendalikan Berkshire Hathaway perusahaannya yang membawahi 63 perusahaan lain tersebut? Ia hanya menulis sebuah surat setahun sekali ke CEO dari perusahaan-perusahaan tersebut. Isinya tentang tujuan yang harus dicapai oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Ia memberi dua perintah kepada CEO-nya. Peraturan 1 : Jangan sampai merugikan uang pemilik saham. Peraturan 2: Jangan lupa peraturan no. 1. Apa wasiatnya pada anak-anak muda? Jauhi kartu kredit dan berinvestasilah pada dirimu sendiri.
Lantas bagaimana dengan Chuck Feeney? (http://en.wikipedia.org/wiki/Chuck_Feeney) Seberapa kaya, dermawan dan sederhanakah ia? Pada tahun 1988, Forbes magazine memasukkan Feeney dalam daftar “top 20 of 400 richest people list”, dengan kekayaan yang diperkirakan sebesar US $1.3 milyar. Artinya ia lebih kaya daripada Rupert Murdoch dan Donald Trump! Tapi sebenarnya Feeney tidak seharusnya masuk dalam daftar tersebut karena sebenarnya ia telah menyumbangkan hampir seluruh hartanya secara diam-diam ke yayasan Atlantic Philanthropies pada tahun 1982 dan hanya menyisakan $ 5 juta bagi dirinya. Ini ia lakukan setelah ia menyumbangkan $ 700.000 ke Cornel University dan mendapat banyak permintaan sumbangan dari berbagai lembaga setelahnya. (Total sumbangannya selama 25 tahun ke Cornell University adalah $600 juta. Meski demikian tak satu pun bangunan yang diberi nama dengan namanya. Ia tidak pernah minta penghargaan atas sumbangannya tersebut. Ia bahkan melarangnya). Tanpa bantuan Feeney Cornell University bakal tidak akan seperti saat ini.
Agar “tangan kiri tidak melihat apa yang diberikan oleh tangan kanan”, Feeney mendaftarkan lembaga filantropinya di Bermuda dan bukan atas namanya! Kenapa harus di Bermuda? Agar besarnya sumbangannya tidak dimasukkan dalam daftar yang setiap tahun diumumkan jika berada di AS. Ia juga tidak pernah menggunakan sumbangannya untuk mendapatkan keringanan pajak seperti yang selayaknya ia terima sesuaiundang-undang. Ia benar-benar merahasiakan sumbangannya. Rahasianya baru terbongkar pada tahun 1997 ketika perusahaan yang membiayai kegiatan filantropinya akan dijual agar mendapat lebih banyak uangkontan. Bahkan Robert Millar, partner bisnisnya yang hidup dalam kemewahan, terkejut mengetahui bahwa sebenarnya Feeney selama ini telah mendermakan hampir seluruh hartanya ke yayasan Atlantic Philantrophies tersebut. Kekayaan lembaga amal tersebut adalah sekitar $ 3.6 milyar dan difokuskan untuk menyelesaikan masalah kesehatan, panti jompo, anak-anak dan remaja yang kurang beruntung, dan masalah-masalah HAM di AS, Irlandia, Irlandia Utara, Inggris, Afrika Selatan, Vietnam dan Bermuda.
Tahun lalu Atlantic Philantrophies menyumbangkan $ 458 juta ke seluruh dunia. Sejak 1982 Atlantic telah menyumbangkan $ 4 milyar atau dirupiahkan dengan kurs 9.000 rupiah perdollarnya adalah sekitar 40trilyun rupiah! Rencananya adalah menyumbangkan sisa asetnya yang telah mencapai $ 4 milyar, yang terus tumbuh setiap harinya, sebelum 2017. Baiklah! Kita telah tahu seberapa kaya dan seberapa dermawan Feeney ini. Tapi apakah ia juga hidup sederhana seperti Warren Buffet? Ya! Feeney menolak secara total jebakan gaya hidup orang-orang kaya.Tak satu pun orang yang pernah melihatnya menggunakan pakaian yang mewah. Kacamata bacanya hanya seharga $ 9 dan arlojinya adalah Casio plastik yang harganya cuma $15. (Bulan lalu saya membeli arloji dengan harga hampir tiga kali lipatnya untuk “memperbaiki” penampilan saya). “Kalau saya bisa mendapat arloji seharga $15 dengan baterei yang tahan 5 tahun, untuk apa saya harus bergaya dengan Rolex?” Katanya ketika ditanya kenapa tidak membeli jam tangan mewah. Feeney bahkan tidak punya rumah ataupun mobil! Ia menggunakan taksi kesana kemari atau berjalan kaki melalui subway dan berbelanja sendiridi supermarket. Kalau perlu menyewa mobil ia menyewa mobil dua pintu yang paling kecil. Di New York tidak akan ada satu orang pun yang tahu bahwa ia orang yang sangat kaya raya ketika berjalan kaki di subwaymembawa tas plastik. Ia menolak hampir semua undangan acara formal. Dan kalau bepergian ia naik pesawat kelas ekonomi (saya yakin ia tidak memiliki kartu ¡¥frequent flyers¡¦ yang dapat membuatnya masuk kelounge eksklusif seperti yang saya miliki).
Feeney mungkin terinspirasi oleh filantropist besar abad 19, Andrew Carnegie (http://en.wikipedia.org/wiki/Andrew_Carnegie). “Saya memiliki tekad yang tidak pernah berubah bahwa kita harus menggunakan kekayaan kita untuk membantu orang lain. Saya berusaha untuk hidup normal, seperti kehidupan dimana saya dibesarkan dulu.” Kata Feeney, “Saya tetapkan diri saya untuk bekerja keras, bukan untuk kaya.” Feeney berharap agar contoh yang ia berikan, yaitu memberikan kekayaan ketika masih hidup agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar dapat mendorong filantropist lainnya untuk juga turut menyumbangselagi masih hidup. Ia ingin agar prinsipnya “Memberi Ketika Masih Hidup” dapat menjadi teladan bagi orang-orang kaya lain. “Kekayaan membawa konsekuensi tanggungjawab. Orang kaya harus sadar bahwa mereka punya tanggung jawab untuk menyerahkan sebagian dari hartanya untuk meningkatkan kualitas kehidupan sesama manusia lainnya, dan bukannya menciptakan masalah bagi generasi berikutnya.” Ujarnya. Uang lebih bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan ketika dalam kesulitan ketimbang dalam keadaan normal. Setiap orang tahu kapan ia dilahirkan tapi tidak tahu kapan ia akan mati. Jika Anda ingin memberi,pikirkanlah untuk memberi ketika Anda masih hidup karena itu akan memberikan lebih banyak kesenangan ketimbang Anda tunggu saat Anda sudah meninggal.” Tuturnya. Mati dalam keadaan kaya adalah matimemalukan, menurutnya.Nah! How (Rich, Generous and) Low Can You Go?
Balikpapan, 20 Oktober 2007
Satria Dharma
Sumber : http://satriadharma.wordpress.com/
Tips Sukses
Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right NowSepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya,mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi sayabukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerimapujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka diInggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil jugamembeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendirisetelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam.Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalahsukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is aboutbeing dan becoming.Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuanbahkan jutaan manusia "sukses" di dunia alias manusia bermentaljuara mempunyai mindset seperti ini.Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juaragolf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut "sukses"? ApakahAnda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak. Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie?
Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive is a grandthing," kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka.Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalanisetiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter.Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Andainginkan sebenarnya pasti bisa tercapai.
Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplahseakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkatademikian, "Live as if you were to die tomorrow, learn as if you wereto live forever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagaicara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly.
Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat darisalah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego.Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There areall kinds of writers, there are all kinds of readers." Ketika sayadown karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulislokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pastiada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place inthe world.
Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson oncesaid, "Do not go where the path may lead, go instead where there isno path and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain,dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.
Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-anganakan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand,impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumenyang kasat mata saat ini juga.
Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan.Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali,apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitukelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.
Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsonghari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi denganhati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Beexcited, be courageous to start the day.
Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akanmenerima. The more you give, the more you get in return. Dalammarketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations ataupublicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlakutanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudahmembuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidakterbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yangkita terima.
Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yangsaya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesarnegara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telahmembalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh didunia.
Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknyasekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup inibukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat inijuga. Jangan tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di FarewellConcertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance Ihave. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkinyang terakhir.Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Suksesadalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir makasaya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).
Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev.Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books andover 850 articles published in the United States, Canada, UK,France, Germany, Singapore and Indonesia. She is based in scenicNorthern California where she resides with her husband.
Salam Sukses
Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive is a grandthing," kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka.Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalanisetiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter.Kalau dia bisa jadi seorang salesman berhasil, apapun yang Andainginkan sebenarnya pasti bisa tercapai.
Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplahseakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkatademikian, "Live as if you were to die tomorrow, learn as if you wereto live forever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagaicara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly.
Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat darisalah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego.Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There areall kinds of writers, there are all kinds of readers." Ketika sayadown karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulislokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pastiada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place inthe world.
Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson oncesaid, "Do not go where the path may lead, go instead where there isno path and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain,dengar kata hati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.
Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-anganakan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand,impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumenyang kasat mata saat ini juga.
Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan.Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali,apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitukelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.
Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsonghari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi denganhati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Beexcited, be courageous to start the day.
Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akanmenerima. The more you give, the more you get in return. Dalammarketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations ataupublicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlakutanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudahmembuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidakterbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yangkita terima.
Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yangsaya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesarnegara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telahmembalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh didunia.
Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknyasekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup inibukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat inijuga. Jangan tunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di FarewellConcertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance Ihave. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkinyang terakhir.Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Suksesadalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir makasaya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).
Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev.Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books andover 850 articles published in the United States, Canada, UK,France, Germany, Singapore and Indonesia. She is based in scenicNorthern California where she resides with her husband.
Salam Sukses
Langganan:
Postingan (Atom)